Monday, July 9, 2012

Kenangan Hujan


Di suatu malam di Surabaya aku termenung melihat bintang di depan rumah. Aku melihat beberapa bintang dan bulan di langit yang bersih tanpa awan. Aku melihat bintang yang paling terang di antara bintang-bintang itu. Dan seketika aku teringat akan kenangan lalu yang membuatku menitikkan air mata bahagia tanpa diketahui siapapun.

Kenangan itu adalah ketika aku di kota asalku. Tak perlu ku sebut dimanakah kota asalku namun kenangan ini membuatku menitikan air mata bahagia walau kadang dihiasi juga dengan tangis kesedihan. Kejadian itu terjadi pada hari Minggu di tahun lalu, aku tidak ingat tepatnya tanggal berapa. Aku sebagai remaja biasa sudah sewajarnya menyukai lawan jenis. Ya… walau aku tahu bahwa aku jatuh cinta sendirian namun bersama dengan orang yang aku suka ini aku merasa tenang.

Di hari Minggu itu aku SMS-an seperti biasanya. Memang aku hanya membahas hal-hal yang kurang penting namun tetap enak untuk dibicarakan. Menurutku apapun yang dibahas dengannya bisa menghiburku walau kadang membuat emosi namun dia selalu menjadikan itu lelucon dan membuat aku sulit untuk marah dengannya. Dan tiba topik tentang makan, dan kebetulan aku memang belum makan. Memang dia sering memaksaku untuk makan namun aku memang tidak begitu menuruti itu. Karena mungkin aku membuatnya kesal akhirnya dia menawariku “Kamu cepat makanlah! Apa perlu aku temani? Mau cari makan dimana?”. Karena sebenarnya aku juga lapar aku hanya mengiyakan saja namun aku belum menentukan tempat.

Dan kemudian di siang harinya dia datang ke rumah. Dia menjemputku untuk menemaniku makan. Itu yang aku suka dari dia, mungkin memang dia tidak merasakan apa yang aku rasakan namun dia bisa menghargaiku sebagai perempuan walau mungkin dia hanya menganggapku sebagai adik saja. Aku pun pergi dengannya dan aku tidak lupa berpamitan dengan orang tuaku. Kami mencari tempat makan dengan bercanda karena memang kami belum menentukan tujuan dan akhirnya kami menemukan sebuah tempat makan bakso di dekat rel kereta api. Kami berhenti dan makan disitu. Suasana menjadi agak remang-remang karena tiba-tiba langit mendung seolah langit merasakan yang aku rasakan, dingin, tenang, namun gelap karena bingung.

Kami pun mencari tempat dan segera memesan makanan. Ya dengan wajah-wajah kebingungan aku menentukan makanan yang akan aku pesan. Dan membuat aku berdebar adalah dia menatap ke arahku. Wajahku memerah karenanya dan dia hanya tersenyum melihatku yang aneh dan akhirnya kami memesan makanan. Sambil menunggu makanan kami mengobrol biasa, entah mengapa aku berdebar jika aku melihat matanya. Aku tak tahu perasaannya namun entah ada yang berbeda dan aku pun tidak dapat menjelaskannya. Kami mengobrol lumayan banyak hingga pesanan kami datang.

Makanan dan minuman kami sudah di meja dan ini saatnya kami untuk makan. Aku mengambil bakso dengan garpu dan meniupnya karena memang baksonya masih panas. Lagi-lagi ia melihatku, awalnya aku memang tidak menghiraukannya namun akhirnya aku juga menatapnya. Cukup lama ia menatapku hingga membuat wajahku memerah lagi. Dan aku berkata “heh kamu ngapain ngliatin aku?” dan ia menjawab 1 kalimat yang membuatku terheran-heran sambil tersenyum manis “hehe… kamu lucu”. Aku hanya bisa diam dan menahan tanganku yang sebenarnya mulai gemetar. Ya… jika aku berdebar karena orang yang aku suka anggota badanku bisa bergetar tak tentu dan aku sulit mengendalikan hal itu dan hal ini baru aku alami ketika aku menyukai orang ini. Menurutku orang ini berbeda dengan orang yang aku sukai sebelum-sebelumnya. Sungguh aneh tapi ini memang nyata.

Ketika kami makan hujan deras pun turun. Kala itu hujan menghiasi suasana hatiku yang penuh dengan debaran. Kami bercerita dengan senang dan perasaanku dibuatnya melayang. Aku tidak cukup kuat melihat matanya karena memang aku suka dengan matanya itu. Dan harus aku sadari bahwa dia adalah orang yang bisa membuatku begini, jatuh cinta sendirian. Dan baru pertama kali aku merasakan hal seperti ini. Dia adalah pelajaran berharga bagiku.

Hujan mulai mereda, aku pun meminta pulang dan kemudian kami pulang sambil membawa 1 bungkus bakso untuk ibuku di rumah. Dan ketika kami di perjalanan hujan turum dengan lebat. Kami mencari tempat berteduh. Dan ketika kami menemukannya kami duduk berdua dengannya, aku sedikit dimarahi olehnya karena aku yang memintanya pulang. Disitu aku mencoba mengelap jaketnya dari air dan meminta maaf padanya karena aku yang membuat kami kehujanan. Namun dia hanya tersenyum padaku dan mengelus kepalaku dan berkata “aku yang takut kamu masuk angin”. Aku terdiam sejenak dan tersenyum kecil. Kami bertatapn lagi dengan dihiasi senyuman-senyuman yang mungkin mempunyai arti yang aku kurang tahu. Kami bercerita lagi dengan bersendagurau dengan kedinginan. Ia tau aku kedinginan dan kaminduduk tanpa jarak. Mungkin itu upayanya supaya aku tidak begitu kedingianan. Suasana hujan kala itu begitu berbeda dengan yang biasanya. Bahagia dalam hati tidak bisa aku bhongi lagi. Dan akhirnya hujan deras berubah menjadi gerimis dan kami pulang.

Kenangan itu membuat aku bersyukur menyukai orang seperti dia karena dia masih bisa meghargai aku sebagai perempuan. Mungkin dia adalah anugah bagiku walau sampai sekarang aku masih jatuh cinta sendirian…

No comments:

Post a Comment