Di suatu malam di Surabaya aku
termenung melihat bintang di depan rumah. Aku melihat beberapa bintang dan
bulan di langit yang bersih tanpa awan. Aku melihat bintang yang paling terang
di antara bintang-bintang itu. Dan seketika aku teringat akan kenangan lalu
yang membuatku menitikkan air mata bahagia tanpa diketahui siapapun.
Kenangan itu adalah ketika aku di
kota asalku. Tak perlu ku sebut dimanakah kota asalku namun kenangan ini
membuatku menitikan air mata bahagia walau kadang dihiasi juga dengan tangis
kesedihan. Kejadian itu terjadi pada hari Minggu di tahun lalu, aku tidak ingat
tepatnya tanggal berapa. Aku sebagai remaja biasa sudah sewajarnya menyukai
lawan jenis. Ya… walau aku tahu bahwa aku jatuh cinta sendirian namun bersama
dengan orang yang aku suka ini aku merasa tenang.
Di hari Minggu itu aku SMS-an
seperti biasanya. Memang aku hanya membahas hal-hal yang kurang penting namun
tetap enak untuk dibicarakan. Menurutku apapun yang dibahas dengannya bisa
menghiburku walau kadang membuat emosi namun dia selalu menjadikan itu lelucon
dan membuat aku sulit untuk marah dengannya. Dan tiba topik tentang makan, dan
kebetulan aku memang belum makan. Memang dia sering memaksaku untuk makan namun
aku memang tidak begitu menuruti itu. Karena mungkin aku membuatnya kesal
akhirnya dia menawariku “Kamu cepat makanlah! Apa perlu aku temani? Mau cari
makan dimana?”. Karena sebenarnya aku juga lapar aku hanya mengiyakan saja
namun aku belum menentukan tempat.
Dan kemudian di siang harinya dia
datang ke rumah. Dia menjemputku untuk menemaniku makan. Itu yang aku suka dari
dia, mungkin memang dia tidak merasakan apa yang aku rasakan namun dia bisa
menghargaiku sebagai perempuan walau mungkin dia hanya menganggapku sebagai
adik saja. Aku pun pergi dengannya dan aku tidak lupa berpamitan dengan orang
tuaku. Kami mencari tempat makan dengan bercanda karena memang kami belum
menentukan tujuan dan akhirnya kami menemukan sebuah tempat makan bakso di
dekat rel kereta api. Kami berhenti dan makan disitu. Suasana menjadi agak
remang-remang karena tiba-tiba langit mendung seolah langit merasakan yang aku
rasakan, dingin, tenang, namun gelap karena bingung.
Kami pun mencari tempat dan
segera memesan makanan. Ya dengan wajah-wajah kebingungan aku menentukan
makanan yang akan aku pesan. Dan membuat aku berdebar adalah dia menatap ke
arahku. Wajahku memerah karenanya dan dia hanya tersenyum melihatku yang aneh
dan akhirnya kami memesan makanan. Sambil menunggu makanan kami mengobrol
biasa, entah mengapa aku berdebar jika aku melihat matanya. Aku tak tahu
perasaannya namun entah ada yang berbeda dan aku pun tidak dapat
menjelaskannya. Kami mengobrol lumayan banyak hingga pesanan kami datang.
Makanan dan minuman kami sudah di
meja dan ini saatnya kami untuk makan. Aku mengambil bakso dengan garpu dan
meniupnya karena memang baksonya masih panas. Lagi-lagi ia melihatku, awalnya
aku memang tidak menghiraukannya namun akhirnya aku juga menatapnya. Cukup lama
ia menatapku hingga membuat wajahku memerah lagi. Dan aku berkata “heh kamu
ngapain ngliatin aku?” dan ia menjawab 1 kalimat yang membuatku terheran-heran
sambil tersenyum manis “hehe… kamu lucu”. Aku hanya bisa diam dan menahan
tanganku yang sebenarnya mulai gemetar. Ya… jika aku berdebar karena orang yang
aku suka anggota badanku bisa bergetar tak tentu dan aku sulit mengendalikan
hal itu dan hal ini baru aku alami ketika aku menyukai orang ini. Menurutku
orang ini berbeda dengan orang yang aku sukai sebelum-sebelumnya. Sungguh aneh
tapi ini memang nyata.
Ketika kami makan hujan deras pun
turun. Kala itu hujan menghiasi suasana hatiku yang penuh dengan debaran. Kami
bercerita dengan senang dan perasaanku dibuatnya melayang. Aku tidak cukup kuat
melihat matanya karena memang aku suka dengan matanya itu. Dan harus aku sadari
bahwa dia adalah orang yang bisa membuatku begini, jatuh cinta sendirian. Dan
baru pertama kali aku merasakan hal seperti ini. Dia adalah pelajaran berharga
bagiku.
Hujan mulai mereda, aku pun
meminta pulang dan kemudian kami pulang sambil membawa 1 bungkus bakso untuk
ibuku di rumah. Dan ketika kami di perjalanan hujan turum dengan lebat. Kami
mencari tempat berteduh. Dan ketika kami menemukannya kami duduk berdua
dengannya, aku sedikit dimarahi olehnya karena aku yang memintanya pulang.
Disitu aku mencoba mengelap jaketnya dari air dan meminta maaf padanya karena
aku yang membuat kami kehujanan. Namun dia hanya tersenyum padaku dan mengelus
kepalaku dan berkata “aku yang takut kamu masuk angin”. Aku terdiam sejenak dan
tersenyum kecil. Kami bertatapn lagi dengan dihiasi senyuman-senyuman yang
mungkin mempunyai arti yang aku kurang tahu. Kami bercerita lagi dengan
bersendagurau dengan kedinginan. Ia tau aku kedinginan dan kaminduduk tanpa
jarak. Mungkin itu upayanya supaya aku tidak begitu kedingianan. Suasana hujan
kala itu begitu berbeda dengan yang biasanya. Bahagia dalam hati tidak bisa aku
bhongi lagi. Dan akhirnya hujan deras berubah menjadi gerimis dan kami pulang.
Kenangan itu membuat aku
bersyukur menyukai orang seperti dia karena dia masih bisa meghargai aku
sebagai perempuan. Mungkin dia adalah anugah bagiku walau sampai sekarang aku
masih jatuh cinta sendirian…
No comments:
Post a Comment