Thursday, May 23, 2013

Antara Cinta Dan Kopi

"Mi! Heh diajak ngomong kok diem sih!"
Aku tersentak dari lamunanku ketika aku mendengar getakan dari temanku itu. Aku melihat ke arahnya, wajahnya seakan kesal denganku. Aku memberinya senyuman sebagai tanda maaf. 
"Hehe, maaf Gi maaf. Aku lagi nggak konsen" kataku dengan rasa bersalah.
"Ih, kamu gitu deh Mi. Yaudah aku mau pergi dulu beli es, nanti aku beliin kamu tapi rasanya aku yang milih" Jawab Gi. Ia segera berdiri dari tempat duduknya dan pergi meninggalkanku di cafe yang tenang ini.

Setelah dia meninggalkanku sendiri, aku mulai merasa bosan dan aku mulai melihat sekeliling dengan detail. Pandanganku jatuh pada sepasang kekasih yang sepertinya sedang ada masalah. Dengan tangan menyangga dagu, aku memperhatikan mereka secara seksama. 

"Kenapa sih kamu nggak bisa ubah kebiasaanmu dengan duniamu, kapan kamu berubah demi aku? Kapan kamu ngerti aku!" Kalimat tersebut terlontar dari mulut gadis yang sedang aku perhatikan. Aku melihat sang  laki-laki hanya diam dan memandang si gadis dengan pandangan lembut. Si gadis terus menyalahkan laki-laki itu entah apa yang salah darinya.Gadis tersebut terus mengomel tanpa peduli apakah disana banyak orang atau tidak. 

Tiba-tiba gadis itu pun menangis. Kepalanya tertunduk lesu, semua keributan yang ia buat sudah kembali normal. Aku melihat kekecewaan pada gadis itu. Laki-laki yang berada di depannya hanya terdiam sambil melihatnya menangis. Tiba-tiba laki-laki itu berdiri dan membawa tas dan pergi meninggalkan gadis itu. Gadis itu tak peduli, mungkin ia merasa malu karena ia sempat menjadi pusat perhatian.

Pandanganku tertuju pada gadis tersebut, ia hanya bisa menunduk dan menutupi wajahnya dengan tangan. Terlihat tangan gadis itu basah, mungkin ia meluap semua emosinya dengan tangisan itu.

"Mi!" Teriak Gi.
"Oh hey Gi, mana es ku?" Tanyaku sambil menatapnya.
"Hehe, aku membelikanmu secangkir kopi panas, maaf ya." Jawabnya tanpa rasa bersalah.
"Ish... yasudah mana." Jawabku santai.
Setelah Gi duduk, aku pun kembali memperhatikan gadis itu. Gadis itu masih bertahan dengan posisinya. Aku pun mengalihkan pandangan ke arah lain. Aku melihat laki-laki yang tadinya bersama gadis itu berdiri di depan kasir sambil membawa secangkir kopi. Lalu laki-laki itu berbalik arah. Aku pikir dia akan pergi ke tempat lain, namun ia kembali menemani gadis itu.

Laki-laki itu duduk dengan lembut di samping gadis itu. Ia menaruh tas di sampingnya kemudian ia mengaduk kopi yang ia pesan. Laki-laki itu berkata dengan lirih "Va, sudahlah jangan menangis. Lihatlah aku dulu, biarkan aku bicara sedikit". Perlahan-lahan gadis  itu mengangkat kepalanya dan membuka tangan yang menutup wajahnya itu. Laki-laki itu menatap gadis itu dengan lembut dan berkata "Maafkan aku Va, aku mungkin memang laki-laki yang mengecewakan bagimu, namun aku hanya ingin melihatmu mandiri". Gadis yang awalnya seperti tidak menghiraukan sekarang berubah menjadi fokus dengan jawaban laki-laki itu.
"Aku hanya melakukan ini atas pesan orang tuamu, mereka tidak ingin kamu menjadi anak manja. Anak tunggal bukan alasan untuk manja sayang". Gadis itu menatapnya lesu, senyum kecil pun mulai menghiasi wajah gadis itu. 

Tiba-tiba laki-laki itu menyodorkan secangkir kopi yang ia beli tadi dan berkata "Lihatlah gambar diatas hot cappuccino itu. Apakah itu cantik menurutmu?". Si gadis melihat cangkir itu dengan perlahan dan menganggukan kepalanya. Laki-laki itu membalasnya dengan senyuman, kemudian ia mengaduk kopi itu dan berkata "Masihkah ia terlihat cantik?". Si gadis mengerutkan dahi dan menggelengkan kepalanya, ia berkata "Mengapa kau aduk cappucino yang cantik tadi?". Si laki-laki hanya tersenyum manis dan berkata "Minumlah kopi itu". Pandangan si gadis terlihat bingung namun si gadis tetap melakukan apa yang laki-laki itu suruh. Gadis itu meminum hot cappuccino itu. Sang laki-laki menatapnya dengan lembut dan bertanya "Bagaimana rasanya?". Gadis itu tertawa kecil dan menjawab "Haha, sudah jelas rasanya pahit, manis, dan juga hangat."

Seketika laki-laki itu memegang tangan gadis itu dan menatap gadis itu dengan dalam. Ia berkata "Sadarkah kau hubungan seseorang memang awalnya terlihat cantik, namun kecantikan itu bisa memudar". Gadis itu terdiam dan menatap laki-laki itu dalam-dalam. Laki-laki itu melanjutkan "Jika kamu ingin meminum kopi itu kamu pasti merusak kecantikannya sama seperti hubungan. Namun setelah itu kau menemukan rasa pahit dan manis di akhir, hal itu seperti masalah-masalah yang menguji setiap hubungan. Bagi beberapa orang rasa itu aneh dan meninggalkannya, namun bagi orang yang bisa menikmati maka ia akan merasakan manis dan hangat hingga akhir. Itulah hubungan kita Va. Seperti katamu, pahit, manis dan hangat. Redamlah emosimu, dewasakan jiwamu". Mendengar kata-kata laki-laki itu, si gadis menitikkan air mata. Tanpa pikir panjang si laki-laki pun memeluk gadis itu.

Aku memalingkan pandangan dari mereka dan tersenyum kecil. "Heh, ngapain kamu senyum senyum sendiri?" kata Gi kepadaku. Aku menjawab dengan lirih "Mungkin laki-laki itu mempunyai cara sendiri untuk meredam kemarahan kekasihnya. Kadang pahit kadang manis tapi tetap hangat seperti kopi yang aku minum sore ini"

Tuesday, May 21, 2013

Cerminan Diri?

Percayakah kalian dengan kalimat "Pacar kalian adalah cerminan diri kalian"?
Sebenarnya bukan hanya pacar, bisa juga orang yang menyukai kita. Kadang aku percaya kata itu karena aku merasakan hal itu.

Entah mengapa jika aku melihat orang yang menyukai, aku selalu teringat aku yang dulu. Kami sama-sama tidak mudah melupakan orang. Kami sama-sama cuek tidak peduli dengan keadaan sekitar.Kami mempunyai kebodohan yang hampir sama karena kami menikmati kebodohan itu. memang hal yang sangat konyol dengan alasan untuk mensyukuri apa yang ada. Kami mempunyai kesamaan dan ada sedikit perbedaan. Biasanya semakin banyak persamaan antar individu, semakin mudah juga mereka untuk menyatu, namun beda denganku saat ini. Aku merasa ada yang mengganjal dari kesamaanku dengannya. 

Saking banyaknya persamaan, aku semakin merasa ada yang aneh. Ada yang berkata "Orang yang menanam juga akan memanen". Aku merasakan bahwa ada yang aneh di diriku sehingga aku disukai dengan orang yang mirip dengan sikapku. Atau mungkin sebenarnya aku kurang suka denga pribadiku sendiri. Ya mungkin aku kurang suka dengan pribadiku sendiri.

Aku berpikir, dengan adanya cerminan diri kita pada orang lain sebenarnya semakin mudah kita untuk berubah menjadi pribadi yang kita sendiri bisa menyukainya. 

Mungkin ketika kita disukai seseorang dan kita belum bisa membalas untuk menyukainya berarti kita juga belum menemukan pribadi yang kita cari di diri kita, maka kita perlu berubah. Mungkin kita lebih menyukai orang lain karena kepribadiannya lebih menarik bagi kita namun ternyata kepribadian yang kita suka tidak bisa masuk dengan kepribadian kita maka kita harus berubah dan menyesuaikan dengan cara apapun. mungkin bisa dibilang konyol juga.

Ya jika sudah menemukan jawaban dari pertanyaan pikiran yang aneh ini mugkin perlu dicoba untuk berubah menjadi pribadi yang bisa membuat diri kita suka dengan diri kita sendiri. oke life must be go on, keep moving on. Hanya dengan usaha dan niat yang berawal dari diri sendiri kita bisa menemukan apa yang kita mau di masa yang mendatang, namun jika hanya niat namun tanpa tindakan semua anganmu hanya sebuah angan dan tak mungkin jadi nyata. Jika kita jatuh hanya karena hal-hal yang sekiranya bukan masalah besar, mungkin ada sesuatu di diri kita yang masih belum kita udah sehingga kadang bisa menghambat ide-ide yang sebenarnya bisa dikeluarkan.

Dunia Nyata atau Maya?

Jika kalian suruh memilih, kalian memilih disukain orang tetapi deketnya hanya di dunia maya atau suka dengan orang di dunia nyata tapi tidak ada balasan? Menurutku itu semuanya sama-sama kurang enak. Apalagi jika nyaman yang dirasakan di dunia maya tapi di dunia nyatanya biasa, itu kadang bikin rasa salah yang besar banget.

Aku ingin share. Aku memang sedang jatuh cinta sendirian tapi aku juga disukain seorang temanku. Temanku itu suka sudah cukup lama, mungkin 1 tahun lebih lah. Tapi herannya aku masih belum bisa merasakan hal yang sama seperti apa yang dia rasain. Tapi memang aku akuin, di dunia maya dia bisa buat aku nyaman tapi kalau di dunia nyata aku lebih memilih menjauh, entah kenapa rasanya memang begitu.

Aku sama sekali tidak habis pikir apa yang aku rasain. Rasanya konyol aja, kesannya seperti mempermainkan. Tapi memang itu yang aku rasa. Sebenarnya selama ini aku hanya sedang berusaha membalas perasaannya dan aku mencoba menghargainya, namun entah mengapa aku merasa semakin bersalah karena aku seakan tidak bisa menetapkan keputusan. 

Rasa nyaman di dunia maya yang dibuat olehnya bisa menghipnotisku masuk ke angan-angan yang membuatku ingin tetap disitu namun jika aku bertemu secara langsung, semua anganku itu pecah dan aku berpikir "lebih baik membalikkan badan". Itu memang sangat jahat menurutku. 

Tetapi, jika aku sedang butuh seseorang dia selalu ada walau hanya di dunia maya. Selama 1 tahun ini perasaanku seakah diolak-alik karena rasa nyaman dan tidak nyaman itu. Perasaan itu sangat tidak konsisten pada tempatnya.Tapi memang orang yang asik di dunia maya bisa tidak seasik di dunia nyata atau sebaliknya, tinggal pilih mau yang nyata atau maya.

Mengapa Kita Beretemu Lagi? (Part II)

4 hari setelah kejadian yang membuatku bergetar hebat, aku mendapatkan suatu kenyataan yang membuat aku jatuh seperti tahun lalu. Kenyataan ini aku dapatkan ketika tidak sengaja "ia" datang lagi ke sekolah. Ketika itu hari sudah sore, aku dan teman-temanku sudah siap untuk pulang. Namun dalam hitungan detik, ia pun datang. 

Ketika melihat ia datang, aku hanya terdiam tanpa ada reaksi. Teman-temanku terlihat sangat heboh dan senang karena mereka rasa aku senang bertemu dengan "dia". Mungkin memang benar aku senang namun itu sakit. Temanku menagajaknya untuk mengobrol dan menahannya agar tetap berada di situ cukup lama. Namun, aku terkejut pada suatu percakapan. 

Temanku bertanya padanya "Hey kak, apa kamu udah punya pacar?". Setelah pertanyaan itu terlontar aku hanya diam dan menunduk dan berharap agak "dia" menjawab "tidak". Dan akhirnya "ia" menjawab "hmmm a.....da". Mendengar jawabannya, aku menjerit dalam hati. Pikiranku terkoyak seperti semua warna cat tumpah di pikiran. Perasaanku seakan keras membatu ketika itu. Kepalaku tertunduk kaku. Air mataku tertahan tak mau menetes. Argh... entah apalagi yang bisa aku katakan. Sebenarnya aku sangat kacau ketika jawaban itu terlontar dari mulutnya. 

Setelah "dia" pergi, semua pandangan temanku mengarah kepadaku. Aku berlagak tidak tahu apapun, aku tersenyum sebisaku. Kata "kamu nggak apa-apa, Mi?" banyak keluar dari mulut mereka. Aku hanya bisa tersenyum seakan semuanya bukan masalah dan menyakitkan. 

Alasanku untuk tersenyum adalah agar rasa sakitku tidak bertahan lama. Jika aku marah atau sedih semua akan percuma, karena orang lain juga tidak bisa merasakan hal yang sama seperti aku walau banyak yang berkata "Aku pernah merasakan seperti kamu" namun perasaan semua orang itu berbeda.

Kehilangan dia di tahun lalu cukup membuatku kehilangan akal sehat. Namun sekarang aku tidak boleh melakukan kebodohan itu lagi. Aku yakin Tuhan mengirimkannya kembali untuk mengujiku. Namun setelah aku bertemu dengannya pikiranku seakan bangkit untuk menjadi lebih baik lagi. Tanpa "dia" mungkin aku bukanlah aku yang sekarang.

"Maknailah setiap orang yang pernah masuk di kehidupanmu walau kadang itu menyakitkan"

Mengapa Kita Bertemu Lagi?

Bagaimana perasaan kalian jika kalian bertemu orang yang kalian sayangi setelah satu tahun berpisah? Apakah mungkin masih ada perasaan yang sama seperti dulu? Perasaan itu cukup aneh.

Jika kalian membaca tulisan-tulisanku pada bulan July tahun lalu, mungkin kalian heran apakah orang yang dimaksud sama. Ya orang yang dimaksud masih sama. Mungkin memang konyol karena aku masih memiliki perasaan yang sama.

Seminggu yang lalu aku bertemu dengannya. Aku bertemu dengannya di sekolahku ketika aku bekerja untuk acara perpisahan sekolah. Hal itu tidak pernah aku duga sebelumnya. Ketika itu aku sedang duduk sambil membawa makanan di tangan. Tiba-tiba temanku datang dan berbicara padaku "Mi, coba kamu keluar deh, pasti kamu kaget". Aku terkejut, aku kira ada apa-apa dengan temanku, namun ketika aku berjalan..........

Aku melihat sosoknya tepat di muka pintu. Aku sangat terkejut dengan detak jantung yang tidak beraturan. Aku berkata kepada temanku "Kamu bodoh! Kenapa tidak bilang dari awal!". Dan kemudian aku masuk ke dalam kelas dan melewati "dia" dengan kepala tertunduk kaku. Aku duduk ke tempat awal aku duduk tadi. Namun tiba-tiba "dia" berkata "Dasar sombong". Seketika ruangan menjadi hening tanpa ada yang menjawab dan akhirnya aku menjawabnya "Eh? Bukan aku yang sombong, tapi kamu yang sombong". Dan kemudian "ia" menjawab "Heleh, kamu sombong. Baru ketemu aja udah nggak nyapa, nggak ngapain, nggak nyalamin". Seketika aku kaget dan menjawab dengan segera "Oh gitu, maumu gitu. Yaudah sini aku salamin dulu". Aku menjawab tanpa pikir panjang dan sebenarnya aku menjawabnya dengan suara yang sedikit bergemetar.

Kemudian aku datang menghampirinya. Dengan kepala lurus dengan pandangan ke tangannya, aku beranikan diri untuk menjulurkan tanganku agar dia menyalamiku. Disana aku merasa ia melihatku agak lama. Tangan kiriku mulai gemetar. Aku menunggu cukup lama hingga dia menyalamiku. Setelah aku melepas tangaku ia berkata "Dasar bocah" dengan hiasan senyum manis di wajahnya. Aku tak sanggup menatapnya lama-lama dan akhirnya aku kembali ke tempat dudukku.

Suasana setelah itu sangat hening. Tak ada satu pun teman yang mengajakku bicara. Di sana aku mulai salah tingkah dan seluruh tubuh hingga bibirku mulai gemetar, namun aku hanya bisa diam. Aku salah tingkah hingga "dia" pulang. 

Setelah ia pulang, aku pun berkata pada teman-temanku "Hey! Aku konyol! Tubuhku bergetar hebat, aku deg-deg an. Aku masih suka dengannya" dengan nada yang semakin turun. Salah satu temanku berkata "Apa kamu nggak denger tadi dia waktu pamit? Dia pamit untuk kamu Mi!". Aku terkejut dan berpikir.....

"Apakah Tuhan mempunyai rencana di balik kehadirannya?"