"Mi! Heh diajak ngomong kok diem sih!"
Aku tersentak dari lamunanku ketika aku mendengar getakan dari temanku itu. Aku melihat ke arahnya, wajahnya seakan kesal denganku. Aku memberinya senyuman sebagai tanda maaf.
"Hehe, maaf Gi maaf. Aku lagi nggak konsen" kataku dengan rasa bersalah.
"Ih, kamu gitu deh Mi. Yaudah aku mau pergi dulu beli es, nanti aku beliin kamu tapi rasanya aku yang milih" Jawab Gi. Ia segera berdiri dari tempat duduknya dan pergi meninggalkanku di cafe yang tenang ini.
Setelah dia meninggalkanku sendiri, aku mulai merasa bosan dan aku mulai melihat sekeliling dengan detail. Pandanganku jatuh pada sepasang kekasih yang sepertinya sedang ada masalah. Dengan tangan menyangga dagu, aku memperhatikan mereka secara seksama.
"Kenapa sih kamu nggak bisa ubah kebiasaanmu dengan duniamu, kapan kamu berubah demi aku? Kapan kamu ngerti aku!" Kalimat tersebut terlontar dari mulut gadis yang sedang aku perhatikan. Aku melihat sang laki-laki hanya diam dan memandang si gadis dengan pandangan lembut. Si gadis terus menyalahkan laki-laki itu entah apa yang salah darinya.Gadis tersebut terus mengomel tanpa peduli apakah disana banyak orang atau tidak.
Tiba-tiba gadis itu pun menangis. Kepalanya tertunduk lesu, semua keributan yang ia buat sudah kembali normal. Aku melihat kekecewaan pada gadis itu. Laki-laki yang berada di depannya hanya terdiam sambil melihatnya menangis. Tiba-tiba laki-laki itu berdiri dan membawa tas dan pergi meninggalkan gadis itu. Gadis itu tak peduli, mungkin ia merasa malu karena ia sempat menjadi pusat perhatian.
Pandanganku tertuju pada gadis tersebut, ia hanya bisa menunduk dan menutupi wajahnya dengan tangan. Terlihat tangan gadis itu basah, mungkin ia meluap semua emosinya dengan tangisan itu.
"Mi!" Teriak Gi.
"Oh hey Gi, mana es ku?" Tanyaku sambil menatapnya.
"Hehe, aku membelikanmu secangkir kopi panas, maaf ya." Jawabnya tanpa rasa bersalah.
"Ish... yasudah mana." Jawabku santai.
Setelah Gi duduk, aku pun kembali memperhatikan gadis itu. Gadis itu masih bertahan dengan posisinya. Aku pun mengalihkan pandangan ke arah lain. Aku melihat laki-laki yang tadinya bersama gadis itu berdiri di depan kasir sambil membawa secangkir kopi. Lalu laki-laki itu berbalik arah. Aku pikir dia akan pergi ke tempat lain, namun ia kembali menemani gadis itu.
Laki-laki itu duduk dengan lembut di samping gadis itu. Ia menaruh tas di sampingnya kemudian ia mengaduk kopi yang ia pesan. Laki-laki itu berkata dengan lirih "Va, sudahlah jangan menangis. Lihatlah aku dulu, biarkan aku bicara sedikit". Perlahan-lahan gadis itu mengangkat kepalanya dan membuka tangan yang menutup wajahnya itu. Laki-laki itu menatap gadis itu dengan lembut dan berkata "Maafkan aku Va, aku mungkin memang laki-laki yang mengecewakan bagimu, namun aku hanya ingin melihatmu mandiri". Gadis yang awalnya seperti tidak menghiraukan sekarang berubah menjadi fokus dengan jawaban laki-laki itu.
"Aku hanya melakukan ini atas pesan orang tuamu, mereka tidak ingin kamu menjadi anak manja. Anak tunggal bukan alasan untuk manja sayang". Gadis itu menatapnya lesu, senyum kecil pun mulai menghiasi wajah gadis itu.
Tiba-tiba laki-laki itu menyodorkan secangkir kopi yang ia beli tadi dan berkata "Lihatlah gambar diatas hot cappuccino itu. Apakah itu cantik menurutmu?". Si gadis melihat cangkir itu dengan perlahan dan menganggukan kepalanya. Laki-laki itu membalasnya dengan senyuman, kemudian ia mengaduk kopi itu dan berkata "Masihkah ia terlihat cantik?". Si gadis mengerutkan dahi dan menggelengkan kepalanya, ia berkata "Mengapa kau aduk cappucino yang cantik tadi?". Si laki-laki hanya tersenyum manis dan berkata "Minumlah kopi itu". Pandangan si gadis terlihat bingung namun si gadis tetap melakukan apa yang laki-laki itu suruh. Gadis itu meminum hot cappuccino itu. Sang laki-laki menatapnya dengan lembut dan bertanya "Bagaimana rasanya?". Gadis itu tertawa kecil dan menjawab "Haha, sudah jelas rasanya pahit, manis, dan juga hangat."
Seketika laki-laki itu memegang tangan gadis itu dan menatap gadis itu dengan dalam. Ia berkata "Sadarkah kau hubungan seseorang memang awalnya terlihat cantik, namun kecantikan itu bisa memudar". Gadis itu terdiam dan menatap laki-laki itu dalam-dalam. Laki-laki itu melanjutkan "Jika kamu ingin meminum kopi itu kamu pasti merusak kecantikannya sama seperti hubungan. Namun setelah itu kau menemukan rasa pahit dan manis di akhir, hal itu seperti masalah-masalah yang menguji setiap hubungan. Bagi beberapa orang rasa itu aneh dan meninggalkannya, namun bagi orang yang bisa menikmati maka ia akan merasakan manis dan hangat hingga akhir. Itulah hubungan kita Va. Seperti katamu, pahit, manis dan hangat. Redamlah emosimu, dewasakan jiwamu". Mendengar kata-kata laki-laki itu, si gadis menitikkan air mata. Tanpa pikir panjang si laki-laki pun memeluk gadis itu.
Aku memalingkan pandangan dari mereka dan tersenyum kecil. "Heh, ngapain kamu senyum senyum sendiri?" kata Gi kepadaku. Aku menjawab dengan lirih "Mungkin laki-laki itu mempunyai cara sendiri untuk meredam kemarahan kekasihnya. Kadang pahit kadang manis tapi tetap hangat seperti kopi yang aku minum sore ini"